SELAMAT DATANG DI KAFANOVA,,kirimkan kritik saran demi kemajuan blog ini,,kirimkan tulisan terbaik anda ke sapujagad@gmail.com,,bisa berupa artikel,cerpen,dll

Mencari Presiden Untuk Guru Swasta

4.19.2014

Oleh: Arif Purwanto, Publish on: 1 April 2014 00:00 wib
            Sewaktu masih duduk di bangku SMA saya berfikir tentang ‘penderitaan’ guru di SMA lain. Beberapa guru seringkali mengeluh tentang kemalasan dan kenakalan kami. Bahkan, seorang guru pernah menitikkan air mata. Padahal sekolah kami adalah salah satu dari tiga terbaik sekolah di kotaku yang setiap tahun bertukar peringkat. Sekolah favorit dengan benih-benih pilihan. Lalu, bagaimana guru-guru yang mengajar di SMA tetangga yang kekurangan siswa dan menerima siswa tanpa seleksi? Bahkan, benih terbaik di SMA tetangga masih lebih rendah kualitasnya dari benih terburuk di sekolah kami. Bagaimanakah caranya guru-guru mereka menghasilkan siswa seperti kami dengan nilai Matematika dan Fisika di atas 80? Jangan salah, dengan sedikit kenakalan itu, nilai kami tetap bagus.
            Pikiran lain yang melayang saat itu adalah bagaimana jika guru-guru swasta di SMA tetangga bertukar mengajar dengan guru-guru negeri di SMA kami? Guru manakah yang sebenarnya lebih kompetitif dan berkualitas? Saat kami dimarahi, maka kami akan bergegas mengerjakan tugas. Namun, lain dengan siswa-siswa tetangga, sebagian mereka sama sekali tidak peduli dengan tugas-tugas. Belum lagi, soal perilaku gaduh di kelas, bolos, berkelahi dan lainnya.
            Sekarang saya paham benar bahwa guru-guru di sekolah swasta sangat menderita. Kami mengabdi dengan honor yang sulit diterima dengan akal sehat. Memang, bagi sebagian guru honor di sekolah swasta yang memiliki lokasi strategis di perkotaan hidup cukup sejahtera. Namun, guru yang mengabdi di sekolah/madrasah di desa-desa tidak punya pilihan untuk memanusiakan diri sendiri.
Selama sebulan, banyak di antara kami yang menerima honor 300 ribu per bulan. Bahkan, banyak yang menerima setengahnya, karena tiap kelas kurang dari 10 siswa. Jangan buru-buru menuduh kepala sekolah gagal dalam managemen pengembangan. Namun tidak ada pilihan berkembang bagi sekolah yang berdiri di sebuah desa yang masih hijau dengan sungai, sawah, dan hutan yang mengelilingi pemukiman warga. Dalam radius 1-2 km2, jumlah bayi baru tidak lebih dari 10 nyawa setiap tahun.
Lain lagi dengan sekolah yang memiliki idealisme mengabdi kepada masyarakatnya, meneruskan cita-cita besar para pendiri. Nasib para guru idealis ini, tentu berbeda dengan guru-guru lain dengan idealisme mengembangkan sekolah modern yang bermutu tinggi. SD unggulan seringkali tidak punya pilihan memarginalkan pelayanan kepada masyarakat sekitar. Sekolah mahal tidak mungkin mengandalkan jangkauan murid terbatas satu kalurahan. SD/MI unggulan memiliki jangkauan satu kota, lebih dari 3-5 kecamatan di sekitarnya.
Nah, bagi SD/MI yang memilih mengabdi kepada para tetangga satu kalurahan, memiliki persoalan biaya untuk naik pangkat menjadi unggulan. Tentu saja, ‘infaq’ yang diterima menyesuaikan para tetangga, bukan hasil hitungan idealisme kepala sekolah. Kemudian, honor yang diterima tiap bulan, kembali kepada hitung-hitungan di atas, walaupun berhasil memiliki siswa yang lebih dari cukup. Kami memilih barokah mengabdi kepada ‘tanah air’ sekolah, bukan kami tidak mampu mengkonsep sebuah sekolah unggulan. Jika tidak, kami hanya akan menjadi institusi sombong di tengah komunitas yang penuh kekurangan.
Di sinilah, peran negara telah lama ditunggu-tunggu oleh para guru swasta. Celakanya, tidak ada calon presiden yang menjanjikan kesejahteraan kepada kami. Memang, kami adalah tanggung jawab yayasan. Sekolah kami sekolah swasta milik yayasan, bukan milik pemerintah. Namun, bukankah puluhan tahun lalu, para tokoh masyarakat bergotong royong membangun gedung sekolah, karena program SD Inpres yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang? Ingat, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban negara. Segala bentuk pendidikan yang dilegalkan oleh perundang-undangan seharusnya kehidupannya dijamin negara. Tentu saja, jika berfikir benar, yang pertama-tama adalah kehidupan kami.
Memang, jauh beruntung teman-teman kami yang mengajar di beberapa kabupaten/kota yang kaya raya. Sebagian mereka mendapat tunjangan yang lumayan untuk hidup. Tunjangan yang membuat mereka memiliki harga diri sebagai guru. Namun, di daerah kami yang memiliki PAD jauh lebih kecil berlipat-lipat belanja PNS, dari manakah kami mengharapkan tunjangan serupa?
Jawabannya hanya satu, APBN yang sanggup memberikan DAU berlipat-lipat dari nilai PAD kota kami. Kota yang di’stempel’ bangkrut oleh Kementerian Keuangan. Berapa? Tentu saja, permintaan kami tidak berlebihan. Tapi, jika UMR dianggap terlalu mahal, bolehlah UMR dikurangi dengan rata-rata honor kami yang tidak sampai 300 ribu. Yang penting, seharusnya lebih dari uang lauk pauk yang diterima PNS. Uang itu kecil sekali dibandingkan dengan anggaran pendidikan 20 % APBN.
Ya, selama ini kami menerima tunjangan fungsional 6 bulan sekali. Nah, atas nama kemanusiaan tunjangan fungsional seharusnya cair setiap bulan, dan naik 3-4 kali lipat. Agar nilainya sedikit pantas, harus lebih dari 2 kali lipat. Kami memang bukan PNS, tapi tetap saja hati kami menjerit saat uang pajak digunakan untuk program remunerasi di berbagai kementerian dan lembaga negara. Gaji PNS naik tiap tahun, lalu tunjangan kami 250 ribu per bulan tak bergerak naik. Perjuangan buruh pun telah menemui hasil, lalu tidakkah negara melihat posisi marginal kami? Kami tidak mungkin mendemo yayasan, kami hanya punya pilihan mengetuk pintu hati para penguasa.
Bukankah pemerintah telah memberikan tunjangan profesi kepada guru-guru swasta? Memang benar, kami memiliki hak yang sama dengan guru-guru PNS terkait sertifikasi guru. Namun, bolehlah kami meminta status yang sama, soal gaji walaupun nominalnya jauh berbeda. Tunjangan profesi yang kami terima pun jauh berbeda nominalnya karena seretnya program inpassing (penyetaraan golongan). Tunjangan profesi juga belum bisa cair setiap bulan. Kami yang hanya punya gelar diploma harus menunggu umur 50 tahun untuk masuk daftar tunggu sertifikasi. Kuliah bagi kami yang tinggal ratusan kilo dari kampus, kiranya hal yang sangat sulit. Terakhir, kami yang telah sarjana pun masih menunggu daftar panjang. Setelah mencari guru professional pun, kami harus sabar menunngu pencairan tunjangan profesi yang seringkali terjebak macet di jalan.
Akhirnya, kami selalu berdoa panjang agar memiliki seorang Presiden. Ya, Presiden kami para guru swasta. Mudah-mudahan terkabul di 2014.

Sumber :http://writing-contest.bisnis.com/artikel/read/20140401/377/215157/mencari-presiden-untuk-guru-swasta
Continue Reading | komentar

Panggilan Seorang Anak untuk Ayahnya

1.09.2014

Introduce
Assalamu'alaikum warahmatullah, sudah beberapa hari tidak memposting artikel disitus ini. Sebelum melangkah ke pembaringan untuk rehat sejenak, saya ingin memposting sebuah artikel kisah nyata untuk pelajaran bagi diri-diri kita dan saya pribadi tentunya. Kisah ini saya dapatkan ketika sedang browsing di Facebook namun sumber aslinya belum sempat saya dapatkan. 

SAAT SUJUD, SEORANG IMAM MASJID MENDENGAR SERUAN PUTRANYA
     Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya, dan pernah disiarkan oleh Radio al-Qur`an di Makkah al-Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.
Pemilik kisah ini berkata:
    Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintah aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkanku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak. Bahkan aku hanya mencukupkan diri dengan berputar-putar naik mobil hingga jama'ah selesai menunaikan shalat. Keadaan yang demikian terus berlangsung hingga aku berumur 21 tahun. Pada seluruh waktuku yang telah lewat tersebut aku jauh dari Allah Ta'ala, dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Tetapi, meskipun aku meninggalkan shalat, aku tetap berbakti kepada kedua orang tuaku.
Inilah sekelumit dari kisah hidupku di masa lalu.
      Pada suatu hari, kami sekelompok pemuda bersepakat untuk pergi rekreasi ke laut. Kami berjumlah lima orang pemuda. Kami sampai di pagi hari, lalu kami membuat tenda di tepi pantai. Seperti biasanya kamipun menyembelih kambing dan makan siang.
      Setelah makan siang, kamipun mempersiapkan diri turun ke laut untuk menyelam dengan tabung oksigen.
Sesuai aturan, wajib ada satu orang yang tetap tinggal di luar, di sisi kemah, hingga dia bisa bertindak pada saat para penyelam itu terlambat datang pada waktu yang telah ditentukan.
     Akupun duduk, dikarenakan aku lemah dalam penyelaman. Aku duduk seorang diri di dalam kemah, sementara di samping kami juga terdapat sekelompok pemuda yang lain. Saat datang waktu shalat, salah seorang di antara mereka mengumandangkan adzan, kemudian mereka mulai menyiapkan shalat. Akupun terpaksa masuk ke dalam laut untuk berenang agar terhindar dari kesulitan yang akan menimpaku jika aku tidak shalat bersama mereka. Karena kebiasaan kaum muslimin di sini adalah sangat menaruh perhatian terhadap shalat berjama'ah dengan perhatian yang sangat besar, hingga menjadi aib bagi kami jika seseorang shalat fardhu sendirian.
    Aku sangat mahir dalam berenang. Aku berenang hingga merasa kelelahan sementara aku berada di daerah yang dalam. Aku memutuskan untuk tidur di atas punggungku dan membiarkan tubuhku hingga bisa mengapung di atas air. Dan itulah yang terjadi. Secara tiba-tiba, seakan-akan ada orang yang menarikku kebawah… aku berusaha untuk naik… aku berusaha untuk melawan… aku berusaha dengan seluruh cara yang kuketahui, akan tetapi aku merasa orang yang tadi menarikku dari bawah menuju ke kedalaman laut seakan-akan sekarang berada diatasku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah.
     Aku berada dalam keadaan yang ditakuti oleh semua orang. Aku seorang diri, pada saat itu aku merasa lebih lemah daripada lalat. Nafaspun mulai tersendat, darah mulai tersumbat di kepala, aku mulai merasakan kematian!! Tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa.. aku ingat kepada ayahku, saudara-saudaraku, kerabat-kerabat dan teman-temanku… hingga karyawan di toko pun aku mengingatnya. Setiap orang yang pernah lewat dalam kehidupanku terlintas dalam ingatanku… semuanya pada detik-detik yang terbatas.. kemudian setelah itu, aku ingat diriku sendiri..!!!
     Mulailah aku bertanya kepada diriku sendiri… apa engkau shalat? Tidak. Apa engkau puasa? Tidak. Apa engkau telah berhaji? Tidak. Apa engkau bershadaqah? Tidak.
Engkau sekarang di jalan menuju Rabb-mu, engkau akan terbebas dan berpisah dari kehidupan dunia, berpisah dari teman-temanmu, maka bagaimana kamu akan mengadap Rabb-mu?
    Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku memanggilku dengan namaku dan berkata: "Bangun dan shalatlah." Suara itupun terdengar di telingaku tiga kali. Kemudian terdengarlah suara beliau adzan. Aku merasa dia dekat dan akan menyelamatkanku. Hal ini menjadikanku berteriak menyerunya dengan memanggil namanya, sementara air masuk ke dalam mulutku.
Aku berteriak… berteriak… tapi tidak ada yang menjawab.
Aku merasakan asinnya air di dalam tubuhku, mulailah nafas terputus-putus.
Aku yakin akan mati, aku berusaha untuk mengucapkan syahadat… kuucapkan AsyhaduAsyhadu… aku tidak mampu untuk menyempurnakannya, seakan-akan ada tangan yang memegang tenggorokanku dan menghalangiku dari mengucapkannya. Aku merasa bahwa nyawaku sudah dalam perjalanan keluar dari tubuhku.
Akupun berhenti bergerak… inilah akhir dari ingatanku.
Aku terbangun sementara aku berada di dalam kemah… dan di sisiku ada seorang tentara dari Khafar al-Sawakhil (Penjaga Garis Batas Laut), dan bersamanya para pemuda yang tadi mempersiapkan diri untuk shalat.
     Saat aku terbangun, tentara tersebut berkata: "Segala puji bagi Allah, atas keselamatan ini." Kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat kami. Akupun bertanya kepada para pemuda tentang tentara tersebut. Apakah kalian mengenalnya? Mereka tidak mengetahuinya, dia datang secara tiba-tiba ke tepi pantai dan mengeluarkanmu dari laut, kemudian segera pergi sebagaimana engkau lihat, kata mereka.
     Akupun bertanya kepada mereka: "Bagaimana kalian melihatku di air?" mereka menjawab: "Sementara kami di tepi pantai, kami tidak melihatmu di laut, dan kami tidak merasakan kehadiranmu, kami tidak merasakannya hingga saat tentara tersebut hadir dan mengeluarkanmu dari laut."
     Perlu diketahui bahwa jarak terdekat dengan Markas Penjaga Garis Laut adalah sekitar 20 Km dari kemah kami, sementara jalannya-pun jalan darat, yaitu membutuhkan sekitar 20 menit hingga sampai di tempat kami sementara peristiwa tenggelam tadi berlangsuang dalam beberapa menit.
      Para pemuda yang di sisi kamipun bersumpah bahwa mereka tidak melihatku. Maka bagaimana tentara tersebut melihatku? Demi Rabb yang telah menciptakanku, hingga hari ini aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kepadaku!! Seluruh peristiwa ini terjadi saat teman-temanku berada dalam penyelaman di laut. Ketika aku bersama para pemuda yang menengokku di dalam kemah, HP-ku berdering. Segera HP kuangkat, ternyata ayah yang menelepon. Akupun merasa bingung, karena sesaat sebelumnya aku mendengar suaranya ketika aku di kedalaman, dan sekarang dia menelepon?!
    Aku menjawab… beliau menanyai keadaanku, apakah aku dalam keadaan baik?! Beliau mengulang-ulangnya, berkali-kali. Tentu saja aku tidak mengabarkan kepada beliau, supaya tidak cemas. Pembicaraan selesai aku merasa sangat ingin shalat. Maka aku berdiri dan shalat dua rakaat, yang selama hidupku belum pernah aku lakukan. Dua rakaat itu aku habiskan selama dua jam.
     Dua rakaat yang kulakukan dari hati yang jujur, dan banyak menangis di dalamnya. Aku menunggu kawan-kawanku hingga mereka kembali dari petualangan. Aku meminta izin pulang duluan. Akupun sampai di rumah, dan ayahku ada di sana. Pertama kali aku membuka pintu, beliau sudah ada di hadapanku dan berkata: "Kemari, aku merindukanmu!"
     Akupun mengikutinya. Kemudian beliau bersumpah terhadapku dengan nama Allah agar aku mengatakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi padaku di waktu Ashar tadi. Akupun terkejut, bingung, gemetar dan tidak mampu berkata-kata. Aku merasa beliau sudah tahu. Beliau mengulangi pertanyaannya dua kali. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Kemudian beliau berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku tadi mendengarmu memanggilku, sementara aku dalam keadaan sujud kedua pada akhir shalat Ashar, seakan-akan engkau berada dalam sebuah musibah."
     Engkau memanggil-manggilku dengan teriakan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku mendengar suaramu dan aku tidak bisa menguasai diriku hingga aku berdo'a untukmu dengan sekeras-kerasnya sementara manusia mendengar do'aku. Tiba-tiba, aku merasa seakan-akan ada seseorang yang menuangkan air dingin di atasku.
     Setelah shalat, aku segera keluar dari masjid dan menghubungimu. Segala puji bagi Allah, aku merasa tenang begitu mendengar suaramu. Akan tetapi wahai anakku, engkau teledor terhadap shalat. Engkau menyangka bahwa dunia akan kekal bagimu, dan engkau tidak mengetahui bahwa Rabbmu berkuasa merubah keadaanmu dalam beberapa detik. Ini adalah sebagian dari kekuasaan Allah yang Dia perbuat terhadapmu.
Akan tetapi Rabbku telah menetapkan umur baru bagimu.
      Saat itulah aku tahu bahwa yang menyelamatkanku dari peristiwa tersebut adalah karena rahmat Allah Ta'ala kemudian karena do’a ayah untukku. Ini adalah sentuhan lembut dari sentuhan-sentuhan kematian. Allah ingin memperlihatkan kepada kita bahwa betapapun kuat dan perkasanya manusia akan menjadi makhluk yang paling lemah di hadapan keperkasaan dan keagungan Allah Ta'ala. Maka semenjak hari itu, shalat tidak pernah luput dari pikiranku. Alhamdulillah. 
~Wahai para pemuda, wajib atas kalian taat kepada Allah Ta'ala dan berbakti kepada kedua orang tua~
Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, terimalah taubat kami dan taubat mereka, dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.
Continue Reading | komentar

Akibat Dari ''Sabar''

12.09.2013


         Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya. Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri.
            Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika. Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini. Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja. Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya. Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya. “Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat. “Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya. Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.
            Saya mendengarkan dengan seksama. Ternyata Ammar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu. Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket. Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
          Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat… Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir.. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang. Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik.
           Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing. Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun.. Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.
          Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini. Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan. Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan.
         Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya. Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan. Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja. Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
           Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu. Adzan dzuhur bergema. . .Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.
           Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa’ memulai shalat berjamaah. Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui. Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi. Ia diam.  Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
             Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba. Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota. Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
             Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota. Ammar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya. Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya. Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.
                Ammar pun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing. Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan. Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil.
             Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya. Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan. Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
 “Berapakah gajimu dalam satu bulan?” Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini. Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?” Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar. Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar. Tubuh Ammar bergetar melihat keajaiban dihadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah, Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata: “Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilal dimasjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini,” Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya.
              Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah. Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak. Semua berubah dalam sekejap! Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.
             Nothing Imposible for Allah, Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.. Bumi inipun Milik Allah, .. Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya. Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan. Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh. Subhanallah… Seperti itulah buah dari kesabaran. “Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”. “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Q.S Al Fushilat:35)
~ Sumber : Toko-Muslim.web.id ~
Continue Reading | komentar

SANG PENJAGA

11.09.2013

Bismillah.
Assalau'alaikym warohmatullahi wabarokatuh.



           Umur, bagi manusia merupakan misteri yang hanya diketahui oleh Sang Khalik. Tak ada yang bisa meraba dan menduga sampai kapan umur kita.
          Ada hal yang mendasar yanng patut kita lakukan agar kita dapat mengoptimalkan umur dalam kebajikan. Diantaranya berusahan menggapai ridho Allah subhanallahu wata'ala dan mengerjakan perbuatan yang dapat mendatangkan pahala yang berlipat ganda. Setelahnya adalah selalu menjaga amal kebaikan agar tetap murni tanpa cacat atau bahkan hilang. Tapi sayangnya, menjaga amal baik agar tetap terus
berlanjut tidaklah mudah. Ada kiat dan tips tersendiri agar amal benar-benar terjaga.
         Sang penjaga amal tersebut adalah :

          Tidak melakukan keharaman
, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Hindarilah menumpuk kebaikan laksana gunung tetapi disisi lain melakukan keharaman secara sembunyi sembunyi maupun terang-terangan. Bisa jadi amalan kebaikan yang kita lakukan tak bernilai atau akan hangus ketika kita juga melakukan keharaman yang menjadi larangan Allah.
        
          Tidak 'ujub dan pemer. Sikap ujub biasanya meremehkan dosa-dosa kecil. Ketika sudah terjangkit virus 'ujub kita akan dengan mudahnya meremehkan dosa-dosa kecil jika dibandingkan dengan kebajikan yang telah diperbuat. Hasilnya kita akan terbiasa melakukan dosa-dosa kecil dan karenanya pula kita akan kehilangan amalan-amalan kebaikan yang kita lakukan.


          Menjaga hak-hak orang lain. Hindarilah mendzalimi saudara-saudara kita baik menyangkut kehormatan dan hak-hak secara umum. Merampas kehormatan saudara kita berupa kehormatan ataupun materi akan menghilangkan pahala kebaikan kita kelak. Di pengadilan Allah nanti orang yang terampas hak-haknya akan mengambil amalan orang yang merampas hingga hak-haknya semasa di dunia terpenuhi.
          
          Tidak melakukan 'jariyah as suu' ( kejahatan yang terus mengalir ). Kita sangat takut jika kita adalah perintis perbuatan dosa. Dosa orang-orang yang mengikuti pula akan menjadi tanggungan kita karena kitalah yang menjadi pelopornya. Bgaimana jika ratusan orang mengikuti perbuatan kita yang jelek? bukankah kita akan menjadi orang yang "kaya" akan dosa?

        Di atas adalah beberapa tips penjaga amalan kita. Satu yang tidak boleh kita lupa, bahwa semua yang kita lakukan, yang kita usahakan jangan pernah lepas dari yang namanya berserah pada Allah, berdoa pada-Nya, karena tak ada kekuatan melainkan semuanya dari-Nya dan bahwa kita hidup diatas garis yang telah Dia tuliskan. Dan yang terpenting apapun yang kita lakukan, kebaikan sekecil atom pun haruslah semata-mata karena menghapkan wajah dan ridho-Nya.

Wallahu ta'ala 'alam




-sumber : Majalah Elfata-

Continue Reading | komentar

Surga Penolong Anak Yatim & Wanita Janda

11.06.2013

Kisah anak yatim dan wanita jandaTerdapat rìwayat tentang seseorang darì kaum alawìyyìn bahwa dìa sìnggah dì daerah ‘ajam (selaìn bangsa Arab). Dìa mempunyaì seorang ìstrì alawìyah dan beberapa anak perempuan. Mereka hìdup dengan kenìkmatan yang melìmpah. Kemudìan sang suamì menìnggal dunìa. Setelah ìtu, ìstrì dan putrì-putrìnya mengalamì kefakìran dan sangat membutuhkan.

Lantas perempuan tersebut bersama putrì-putrìnya keluar ke daerah laìn lantaran khawatìr musuh-musuhnya merasa gembìra dengan musìbah yang menìmpanya. Lantaran udara yang terlalu dìngìn, perempuan tersebut membawa anak-anaknya sìnggah ke beberapa masjìd yang dìmulìakan.

Tatkala perempuan tersebut berjalan untuk mencarì makanan, dìa melewatì dua orang, yaìtu seorang muslìm yang merupakan sesepuh daerah tersebut dan orang Majusì yang merupakan penanggung jawab daerah tersebut. Perempuan ìtu menemuì lelakì muslìm tadì, dìa bercerìta kepadanya mengenaì kondìsì dìrìnya dan bahwa dìa merupakan golongan alawìyah dan syarìfah. Dìa ìngìn mendapat makanan untuk anak-anaknya. Lalu sì muslìm berkata, “Tunjukkan buktì dan saksì bahwa engkau seorang alawìyah dan syarìfah.”

Perempuan tersebut menjawab, “Saya perempuan asìng. Dì daerah ìnì tìdak ada orang yang mengenalì saya.”

Lalu sì muslìm berpalìng darìnya. Perempuan ìtu pun berjalan menìnggalkannya dalam keadaan kecewa dan bersedìh.

Kemudìan dìa mendatangì orang Majusì dan mencerìtakan kondìsì dìrìnya kepadanya, lantas sì Majusì bangkìt dan mengutus pembantunya untuk menjemput putrì-putrì perempuan ìtu, lalu putrì-putrì perempuan tersebut dìbawa ke rumahnya. Dìa memberì makan kepada mereka dengan makanan yang palìng enak dan memberì mereka pakaìan dengan pakaìan yang palìng membanggakan. Semalaman mereka bersama sì Majusì dengan penuh kenìkmatan dan kemulìaan.

Pada saat tengah malam, sesepuh yang muslìm bermìmpì dalam tìdurnya seakan-akan kìamat telah datang. Dìa memegang bendera dì atas kepala Nabì shallallahu ‘alaìhì wa sallam. Tìba-tìba tampak sebuah ìstana darì zamrud hìjau, terasnya terbuat darì mutìara dan Yaqut. Dì dalamnya terdapat kubah-kubah terbuat darì mutìara dan marjan. Lalu dìa bertanya, “Untuk sìapakah gedung ìnì?”

Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam menjawab, “Bagì seorang muslìm yang bertauhìd.”

Dìa berkata, “Wahaì Rasulullah! Saya seorang muslìm yang bertauhìd.”

Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda, “Tunjukkan buktì dan saksì bahwa engkau seorang muslìm yang bertauhìd.”

Dìa pun kebìngungan.

Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda lagì, “Ketìka seorang perempuan alawìyah mìnta tolong kepadamu, engkau berkata kepadanya, ‘tunjukkan buktì kepadaku bahwa kamu seorang alawìyah.’ Demìkìan pula engkau. Tunjukkan buktì kepadaku bahwa engkau seorang muslìm.”

Lantas dìa terbangun darì tìdurnya sambìl bersedìh karena telah menolak perempuan alawìyah dalam keadaan kecewa. Kemudìan dìa berkelìlìng dì daerah dan menanyakan tentang perempuan tersebut hìngga akhìrnya dìa tahu bahwa perempuan tersebut berada dì tempat Majusì. Lalu dìa mendatangìnya.

Dìa berkata kepada Majusì, “Saya menghendakì perempuan syarìfah alawìyah serta putrì-putrìnya darì dìrìmu?”

Sì Majusì menjawab, “Tìdak ada jalan bagìku melakukan hal ìnì. Sungguh, saya telah memperoleh berkah darì mereka.”

Dìa berkata lagì, “Sìalakan ambìl serìbu dìnar darì dìrìku, tetapì serahkan perempuan tersebut kepadaku!”

Sì Majusì menjawab, “Saya tìdak akan melakukannya.”

Dìa berkata, “Harus.”

Sì Majusì berkata, “Hal yang engkau ìngìnkan ìtu sayalah yang lebìh berhak sedangkan gedung yang engkau lìhat dì dalam mìmpì memang dìcìptakan untukku. Apakah engkau menunjukkan Islam kepadaku? Demì Allah, semalam saya dan keluarga saya tìdak tìdur sebelum kamì masuk Islam melaluì tangan perempuan syarìfah ìnì. Saya juga bermìmpì ketìka tìdur sebagaìmana yang engkau ìmpìkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda kepadaku, ‘Apakah perempuan alawìyah serta putrì-putrìnya bersama kamu?’ Saya menjawab, ‘Iya. Wahaì Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam.’ Belìau shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda, ‘Gedung ìtu untukmu dan keluargamu. Kamu dan keluargamu termasuk penduduk surga. Dì dalam Azalì, Allah Subhanahu wa Ta’ala memang mencìptakanmu sebagaì orang mukmìn.’

Kemudìan orang muslìm tersebut pulang dengan membawa kesedìhan dan kesusahan yang hanya dìketahuì oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena ìtu, lìhatlah berkah dan kemulìaan berbuat baìk kepada para janda dan anak yatìm.
Referensi Pencarian :
janda muslimah, wanita janda, kisah janda nikmat, gadis surga, cerita sek janda muslimah, kata -kata hikmah, anita asaal pekalongan janda anak satu, kisah muslim anak masuk surga, kata mutiara untuk wanita janda musllim, katA mutiarA untuk wanita janda

SUMBER :http://kaumhawa.com/surga-penolong-anak-yatim-wanita-janda/
Continue Reading | komentar

OPINI

LIHAT YANG LAIN YUKK... »
KAFANOVA

KIMIA KELAS X

LIHAT YANG LAIN YUUUKK »

KIMIA KELAS XI

LIHAT YANG LAIN YUUUKK »

KIMIA KELAS XII

LIHAT YANG LAIN YUUUKK »

PESAN ANDA

NEWS UPDATE

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. KAFANOVA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger